kata orang, kalau sampe seseorang meninggalnya seketika, tanpa sakit berkepanjangan, itu bagus, tidak merepotkan saudara dan orang2 dekat.
Tapi bagi gw, meninggal mendadak itu menyakitkan hati. Karena mendadak, belum sempat ada persiapan hati, tau2 seseorang yang terkasih sudah tidak ada.
Sabtu ini, tanggal 20 September, my beloved aunt passed away.
Dan mendadak sekali, karena tidak ada angin tidak ada kabar berita dia sakit.
Kejadiannya begini, sabtu gw ngantor, karena banyak kerjaan (menjelang libur lebaran). Sepulang kantor, sekitar 2 km sampai rumah, HP gw berbunyi. Mau diangkat keburu mati. Gw pikir, nanti sampai di rumah saja gw call balik. Waktu itu jam 17.10.
Sampai dirumah, tante gw (adik mama paling kecil) keluar dari pintu, dan berkata, Li, mama noni meninggal. Mama kamu udah ke rumah dia barusan.
Reaksi gw pertama adalah.. yang bener? WTF? Langsung saja, gw mutar balik motor, menuju rumah dia.
Dan benar saja, she’s gone. Gw sampai di rumah dia 17.20. Dia meninggal pukul 17.00. Dan telpon miscal tadi ternyata dari cc gw, mau ngasih tau berita ini.
Sedih sekali. Tante/encim yang ini (istri adik papa) sudah seperti mama gw. Gw ingat sekali dari kecil sampai sekarang suka sekali makan kue lemper buatan dia. Dan setiap kali acara sembahyang sebelum Imlek, gw tidak pernah ketinggalan makan masakan babi teripang dengan jamur kuping tikus dan kembang tahu. Cuma dia yang biasa masak begituan..
Sakitnya katanya sakit perut. Karena dia biasanya maag, udah dikasih obat maag tapi tetap sakit. Siang dipanggil dokter. Dan katanya, meninggal di pelukan suami sorenya. Begitu saja. Cuma dalam beberapa jam.
Tadi waktu acara sembahyang di rumah dia, gw berbisik ke mama gw..ma, kalau mama sakit harus bilang ya. Jangan diam2 saja. Gw jadi trauma melihat encim gw meninggal mendadak begini.

Goodbye auntie. I’ll be missing you. Really.