Aku sering melupakan nama teman2.

Dari SD, SMP, SMA, sampai kuliah, aku sudah berkenalan dengan entah berapa banyak orang. Sebagian menjadi teman yang lumayan dekat. Sebagian hanya kenal, mungkin hanya mengenali wajahnya, mungkin hanya tahu namanya sebagai teman sekelas.

Aku ini kalau sudah dekat sama orang aku akan sangat memperhatikan orang tersebut. Sebaliknya, kalau aku cuma mengenal seseorang sebatas kenal saja, setelah sekian lama, seringkali aku menjadi lupa terhadap orang tersebut.

Hal itu baru terasa sekarang, setelah beberapa lamanya aku meninggalkan bangku sekolah dan memasuki dunia kerja.

Dijalan, di supermarket, di rumah makan padang, tidak jarang pundakku ditepuk seseorang, atau namaku dipanggil oleh seseorang, yang aku ingat wajahnya bahwa dia ini dulunya teman semasa kuliah atau sekolah dulu, tapi namanya aku tidak ingat lagi. Dan perbandingan ingat vs tidak ingat ini mencapai 1:9. Parah ya?

Kadang aku berpikir, kok aku bisa menjadi seperti ini ya? Kok aku bisa sampai melupakan orang sedemikan parahnya. Pernah bertanya kepada seseorang, ada apa gerangan. Dia menjawab, karena dulunya aku ini emang introvert, dan tidak gaul, plus kepribadianku dulu yang amat sangat rendah diri, mengakibatkan aku hanya terkonsentrasi kepada diriku sendiri. Aku menganggap diriku ini cuma seorang biasa yang tidak berkesan. Dia mengatakan juga, dalam kenyataan, diriku itu cukup populer dimata anak2. Dan susah dilupakan. Huh. I can hardly believe that. Tapi kenyataannya emang rata2 semua teman2 lama ingat terhadap diriku dan namaku…

Kejadian hari ini lagi. Di kantor, ada telpon berdering. Pas kuangkat, ternyata yang menelpon itu teman kuliahku. Saking penasarannya, kutanyakan, kok kamu bisa tahu aku sudah kembali ke kampung halaman dan bekerja di tempat ini. Dan dia menjawab, anak2 laen yang memberi tahu dia. Padahal, aku tidak berhubungan lagi dengan sebagian besar anak-anak lain yang namanya yang dia sebutkan. Tapi mereka toh tetap saja mengetahui kabar dan keadaan diriku, bahkan tahu sekarang aku kerja dimana.

Sungguh, maafkan aku teman, karena aku melupakan dirimu. Aku memang teman yang tidak tahu diri.

Tapi, terima kasih karena sudah menjadi temanku dan mengingat diriku yang bukan siapa-siapa ini.