Ada yang bilang, aku harus belajar mengatakan TIDAK. dan hidup akan menjadi lebih mudah.

Tapi bagaimana kalau aku tidak diperbolehkan mengatakan TIDAK? bagaimana kalau situasinya : aku adalah sang problem solver. Alias tumbal. Sebego2nya aku, aku harus punya jawaban atau alternatif atas masalah yang terjadi. Tidak peduli sesibuk apapun diriku. Atau sesepele apapun masalahnya *yang seharusnya bisa dikerjakan oleh orang ybs*

Contoh sepele:
Di kantor mesin fotocopy dulu sering sekali rusak. Alih2 orang yang berkepentingan dengan mesin fotocopy mengambil inisiatif untuk menelpon tukang service, yang dilakukan oleh orang tersebut cuma melapor padaku : Bu, mesin fotocopy rusak, gimana ya? Atau yang lebih ekstrim, dan ini beneran terjadi, ada yang ngomong ke Manajer di HO, Pak, ini bagaimana ya, kok mesin fotocopy rusak terus, kami jadi susah bekerja. Buntut2nya, Manajer yang dilaporin memanggil aku dan tanya < lyd, itu kenapa mesin fotocopy rusak terus, coba kamu urus apa masalahnya. Pokoknya saya tidak mau mendengar lagi laporan mesin fotocopy rusak. Dang. Padahal, aku bukan dalam posisi HRD di kantor. Aku cuma seseorang bego yang mau2nya disuruh ngurusin hal rumah tangga di kantor (dan tidak boleh menolak). Memakai mesin fotocopy aku juga ngga. DUlu yang urus kontrak pembelian mesin fotocopy juga nggak. Tapi pas bermasalah, jatuh2nya ke aku yang harus bertanggung jawab. Dan itu bukan hanya sekali dua kali, tapi berkali-kali. Masalah mobil. Masalah WC. Masalah kebersihan kantor. Sampai ke masalah yang agak rumit seperti pajak. Perizinan. Legalitas dokumen. Dll Dll. Yang sebenarnya, kalau semua mau lebih care, pedulian dan mikir dikit, itu bisa diselesaikan sendiri. Tapi emang lebih enak nanya atau mengandalkan orang lain. Dan si orang lain itu tidak punya hak untuk menolak, karena kalau menolak, tetap aja itu masalah gak akan dibereskan dan akhirnya itu orang lyang akan menjadi obyek penderita untuk disalahkan oleh atasan, karena “kerjaan jadi tidak beres” akibat dia menolak untuk membereskan masalah tersebut.

Dan hal yang sama terjadi lagi hari ini. Mereka cuma bisa bilang, gimana ini bu, gimana ya, jadi kami harus ngapain?
D-O-H
emangnya aku serba bisa. Bedanya aku dengan mereka, aku mau mikir untuk penyelesaian masalah, mereka cuma bisa mengeluh dan melemparkan masalah ke orang lain.

Mesti buka bisnis konsultasi apa saja kayanya aku.