Weeww…lama sekali sejak post terakhir aku disini.

Seseorang teman dan aku sedang mengobrol ringan, dan biasa, kami mengeluhkan biaya hidup yang semakin tinggi. Dan keluar suatu omongan dari dia : Kamu sih enak, cuma harus mengongkosi satu dapur. Lah aku, harus mengongkosi dua dapur, (maksud : harus ikut membantu orang tuanya yang kebetulan sudah tidak bekerja lagi dan tinggal beda rumah dengan dia). Diriku sendiri kebetulan masih tinggal dengan mama, dan kondisinya sama, mama juga sudah tidak bekerja lagi.

aku jadi mikir….apakah benar kondisiku lebih enak dari temanku itu?

Kalau mau ditelusuri lebih dalam, muncul pertanyaan, apakah anak wajib memberi (mengongkosi) orang tuanya pada saat si anak sudah mandiri?
Terlepas dari kondisi si anak masih tinggal dengan orang tua atau sudah punya rumah sendiri.

Sepertinya gak ada jawaban benar atau salah untuk hal di atas. Cuman kalau pemikiran (pribadi)ku sih….

1. Orang tua tidak berhak untuk meminta balasan dari anak (contoh, anak harus memberi nafkah orang tua setelah dia sudah mandiri) karena memang sudah kewajiban orang tua untuk membesarkan anak. Wong anak tidak minta dilahirkan kok, orang tua sendiri yang ingin punya anak.
2. Anak ~ ini dilihat dari sisi moral, masa sang anak setelah sudah mandiri lepas dari orang tua, tidak memberi orang tuanya sedikit hasil jerih payah si anak? Terlepas dari masih serumah atau tidak, orang tuanya minta atau tidak, kayanya si anak wajib lah memberi orang tua. Semampunya tentu.

Jadi, bagaimana menurut anda?

Kenapa pake judul diatas ya?

Karena menurutku judul diatas bener2 menggambarkan hal yang akan aku tulis disini.

Coba sekarang kita lihat, dimana2 rata2 semua orang bilang, katanya cari kerjaan susah. Terutama hal itu dikeluhkan oleh para pencari kerja. Tapi sebaliknya, coba ditanyakan kepada HRD perusahaan, gampang ngga mencari pegawai baru…jawaban mereka pasti : susah juga.

Kok begitu ya?

Sebenarnya itulah sifat dasar manusia. Seringkali kalau kerja, udah duluan membayangkan uang, gaji, bonus dan benefit yang didapatkan. Dan misalnya, kalaupun mendapat kerjaan dengan gaji kecil atau tidak sesuai dengan minat, apabila kerjanya tidak maksimal, maka yang disalahkan adalah : gajinya kecil sih, coba gajinya besar, pasti kerjaanku lebih bagus. Apa benar demikian???? INi sama aja bilang, duluan ayam atau telur. Aku tidak yakin kalau gaji besar pasti kerjaannya bagus. Itu cuma alasan. Jadi sebenarnya, bukan susah cari kerja, buat pencari kerja sih, susah cari kerjaan yang sesuai dengan maunya dia ( kerja santai, gaji tinggi) dan perusahaan sendiri susah mencari pegawai yang mau bekerja keras dengan gaji seadanya.

Makanya kenapa katanya cari kerja susah, karena kebanyakan orang duluan hitung2an benefit didepan. Tapi kebanyakan orang tersebut tidak memperhitungkan kapasitas dan nilai jual diri. Perusahaan juga ngga mau ngasih benefit lebih tanpa ada yang bisa mereka dapatkan dari si pencari kerja. Benefit tersebut datang dari effort.

Prinsipnya sebenarnya sederhana. Bekerja itu, pikirkan pekerjaannya. Kalau memikirkan target atau tujuan, pasti stress. Cukup bekerja saja, selesaikan apa yang bisa kamu lakukan.

Aku sendiri merupakan contoh yang paling bagus. Kondisi aku dalam beberapa tahun ini, kayanya overload banget. Terutama tahun 2009 lalu, lumayan stress buatku, dengan banyaknya masalah pribadi (sampe2 lupa mengupdate blog). Dan sekarang, juga lumayan berat, karena aku kekurangan tenaga kerja (dari resign dan cuti melahirkan) sehingga sementara ini kerjaan mereka harus aku rangkap, tanpa meninggalkan kerjaan aku sendiri). Kalau memikirkan target, pastilah aku bakal stress dan pusing. Tapi bohong kalau aku bilang aku tidak stress. Terutama karena sekarang bulan Januari dimana annual report harus selesai dan auditor mulai beraksi. Aku cuma satu orang, tapi harus merangkap kerjaan 3 orang, plus harus membackup kerjaan di divisi accounting. Pasti stress lah. Tapi ya, dijalankan saja. Yang penting aku sudah berusaha, dan kalaupun perusahaan masih tidak puas, ya emang segini saja kemampuan aku. Makanya, aku paling kesal kalau melihat orang2 yang kerja seadanya saja, tanpa target, tanpa tanggung jawab, dan beralasan lupa atau tidak sempat untuk setiap pekerjaan yang tidak diselesaikan tepat waktunya.

Gajiku besar? Relatiflah. Aku tidak sampai ke posisi begini begitu saja. Perlu perjuangan. Aku mulai dari bawah, dari staff data entry. Sampai akhirnya sekarang, di level supervisor, mungkin gajiku tidak sebesar teman2 lain yang berada di posisi yang sama diperusahaan lainnya, tapi aku merasakan benefit yang lain. Diantaranya, aku sudah beberapa kali mendapatkan trip/perjalanan ke luar daerah, bahkan ke luar negeri. Dan februari 2010 ini, aku akan berangkat ke Shanghai, China selama 5 hari. Lucky me. Dan sejujurnya, aku tidak merasa tidak enak dengan rekan2 lain, karena aku yakin, aku layak mendapatkan hadiah tersebut, melihat dari effort yang sudah kuberikan pada perusahaan.

Jadi melantur ke diri sendiri, tapi sebenarnya yang ingin kusampaikan adalah : kerja itu ya kerja, cintailah kerjaanmu. Kalau kamu tidak menyukai kerjaan kamu, carilah yang lain. Kalau kamu tidak punya alternatif kerjaan lain, belajarlah menyukai kerjaanmu. Dan kalau kamu melakukan pekerjaanmu sesungguh hati dan sekuat tenaga, tanpa memikirkan benefit yang akan diterima, suatu saat kamu akan dapat imbalannya kok. Bukan berarti kamu akan kaya, tapi selain kamu menjadi jago dalam bidang yang kamu kerjakan, perusahaan tidak buta, dia menghargai orang2 yang memang telah berusaha keras untuk kemajuan bersama. Dan kalau sial dan perusahaan tidak menghargai semua effort yang telah kamu berikan, dan kamu percaya bahwa kamu sudah berusaha maksimal, dan kamu yakin bahwa kamu punya nilai jual tinggi, tinggal cari perusahaan lain yang menghargai kamu. Selama kamu emang udah jago, cari kerja itu tidak susah, dan tentu saja, kamu akan bisa bernegosiasi untuk gaji, serta benefit lain2nya.

I’m proud to be myself now. Dan aku berani bilang, aku punya nilai jual :)

Ikutan mendukung…
untuk yang tidak tau siapa Ibu Prita Mulyasari dan kenapa harus didukung, silakan googling dengan subject : prita mulyasari >_<

Banner didapat dari situs ini

Iseng2…akhirnya hari Sabtu pagi digunakan untuk bikin online store. Udah lama punya akun Amazon gak pernah diapa2in. Pas blogwalking nemu ide2 buat online store. Langsung dicoba. Storenya cuma 1, barangnya sama, tapi dibuat 2 site.
Satu dibuat langsung menggunakan astore gratisan fasilitas dari Amazon. Hasilnya bisa dilihat di sini . Yang satu lagi (mirror-nya) dicoba buat di host gratisan yang lumayan lengkap, 000webhost, Host ini biar gratisan, udah gak ada ad atau banner lho, juga sudah mendukung php, mySQl, multi domains.
Untuk menguploadnya menggunakan ftp program, hal ini aku pake filezilla. Dan untuk online storenya menggunakan Associate O-matic…..ternyata hasilnya gak jelek2 amat.
Dtengok2 ya..barangnya bagus2 kok huehuehue

Emang masih sederhana sekali, maklum baru belajar nih…

Free Website Hosting

Ada yang bilang, aku harus belajar mengatakan TIDAK. dan hidup akan menjadi lebih mudah.

Tapi bagaimana kalau aku tidak diperbolehkan mengatakan TIDAK? bagaimana kalau situasinya : aku adalah sang problem solver. Alias tumbal. Sebego2nya aku, aku harus punya jawaban atau alternatif atas masalah yang terjadi. Tidak peduli sesibuk apapun diriku. Atau sesepele apapun masalahnya *yang seharusnya bisa dikerjakan oleh orang ybs*

Contoh sepele:
Di kantor mesin fotocopy dulu sering sekali rusak. Alih2 orang yang berkepentingan dengan mesin fotocopy mengambil inisiatif untuk menelpon tukang service, yang dilakukan oleh orang tersebut cuma melapor padaku : Bu, mesin fotocopy rusak, gimana ya? Atau yang lebih ekstrim, dan ini beneran terjadi, ada yang ngomong ke Manajer di HO, Pak, ini bagaimana ya, kok mesin fotocopy rusak terus, kami jadi susah bekerja. Buntut2nya, Manajer yang dilaporin memanggil aku dan tanya < lyd, itu kenapa mesin fotocopy rusak terus, coba kamu urus apa masalahnya. Pokoknya saya tidak mau mendengar lagi laporan mesin fotocopy rusak. Dang. Padahal, aku bukan dalam posisi HRD di kantor. Aku cuma seseorang bego yang mau2nya disuruh ngurusin hal rumah tangga di kantor (dan tidak boleh menolak). Memakai mesin fotocopy aku juga ngga. DUlu yang urus kontrak pembelian mesin fotocopy juga nggak. Tapi pas bermasalah, jatuh2nya ke aku yang harus bertanggung jawab. Dan itu bukan hanya sekali dua kali, tapi berkali-kali. Masalah mobil. Masalah WC. Masalah kebersihan kantor. Sampai ke masalah yang agak rumit seperti pajak. Perizinan. Legalitas dokumen. Dll Dll. Yang sebenarnya, kalau semua mau lebih care, pedulian dan mikir dikit, itu bisa diselesaikan sendiri. Tapi emang lebih enak nanya atau mengandalkan orang lain. Dan si orang lain itu tidak punya hak untuk menolak, karena kalau menolak, tetap aja itu masalah gak akan dibereskan dan akhirnya itu orang lyang akan menjadi obyek penderita untuk disalahkan oleh atasan, karena “kerjaan jadi tidak beres” akibat dia menolak untuk membereskan masalah tersebut.

Dan hal yang sama terjadi lagi hari ini. Mereka cuma bisa bilang, gimana ini bu, gimana ya, jadi kami harus ngapain?
D-O-H
emangnya aku serba bisa. Bedanya aku dengan mereka, aku mau mikir untuk penyelesaian masalah, mereka cuma bisa mengeluh dan melemparkan masalah ke orang lain.

Mesti buka bisnis konsultasi apa saja kayanya aku.

it’s a blue and rainy christmas here…but remember, a little smile, a word of cheer, a bit of love from someone near, a little gift from one held clear, best wishes for the coming year..These make a Merry Christmas.

God Rest Ye Merry, Gentlemen
1. God rest1 you2 merry, gentlemen,

Let nothing you dismay,
For Jesus Christ our Saviour
Was born upon this day,
To save us all from Satan’s power
When we were gone astray:
O tidings of comfort and joy,
comfort and joy,
O tidings of comfort and joy.
2. In Bethlehem, in Israel,
This blessed Babe was born,
And laid within a manger
Upon this blessed morn,
The which His Mother Mary
Did nothing take in scorn:
O tidings …
3.From God our heavenly Father
A blessèd angel came,
And unto certain shepherds
Brought tidings of the same,
How that in Bethlehem was born
The Son of God by name:
O tidings …
4. The shepherds at those tidings
Rejoicèd much in mind,
And left their flocks a-feeding
In tempest, storm and wind,
And went to Bethlehem straightway,
This blessèd Babe to find:
O tidings …
5. But when to Bethlehem they came,
Whereat this Infant lay,
They found Him in a manger,
Where oxen feed on hay;
His mother Mary kneeling,
Unto the Lord did pray:
O tidings …
6. Now to the Lord sing praises,
All you within this place,
And with true love and brotherhood
Each other now embrace;
This holy tide of Christmas
All others doth deface:3
O tidings …

Aku sering melupakan nama teman2.

Dari SD, SMP, SMA, sampai kuliah, aku sudah berkenalan dengan entah berapa banyak orang. Sebagian menjadi teman yang lumayan dekat. Sebagian hanya kenal, mungkin hanya mengenali wajahnya, mungkin hanya tahu namanya sebagai teman sekelas.

Aku ini kalau sudah dekat sama orang aku akan sangat memperhatikan orang tersebut. Sebaliknya, kalau aku cuma mengenal seseorang sebatas kenal saja, setelah sekian lama, seringkali aku menjadi lupa terhadap orang tersebut.

Hal itu baru terasa sekarang, setelah beberapa lamanya aku meninggalkan bangku sekolah dan memasuki dunia kerja.

Dijalan, di supermarket, di rumah makan padang, tidak jarang pundakku ditepuk seseorang, atau namaku dipanggil oleh seseorang, yang aku ingat wajahnya bahwa dia ini dulunya teman semasa kuliah atau sekolah dulu, tapi namanya aku tidak ingat lagi. Dan perbandingan ingat vs tidak ingat ini mencapai 1:9. Parah ya?

Kadang aku berpikir, kok aku bisa menjadi seperti ini ya? Kok aku bisa sampai melupakan orang sedemikan parahnya. Pernah bertanya kepada seseorang, ada apa gerangan. Dia menjawab, karena dulunya aku ini emang introvert, dan tidak gaul, plus kepribadianku dulu yang amat sangat rendah diri, mengakibatkan aku hanya terkonsentrasi kepada diriku sendiri. Aku menganggap diriku ini cuma seorang biasa yang tidak berkesan. Dia mengatakan juga, dalam kenyataan, diriku itu cukup populer dimata anak2. Dan susah dilupakan. Huh. I can hardly believe that. Tapi kenyataannya emang rata2 semua teman2 lama ingat terhadap diriku dan namaku…

Kejadian hari ini lagi. Di kantor, ada telpon berdering. Pas kuangkat, ternyata yang menelpon itu teman kuliahku. Saking penasarannya, kutanyakan, kok kamu bisa tahu aku sudah kembali ke kampung halaman dan bekerja di tempat ini. Dan dia menjawab, anak2 laen yang memberi tahu dia. Padahal, aku tidak berhubungan lagi dengan sebagian besar anak-anak lain yang namanya yang dia sebutkan. Tapi mereka toh tetap saja mengetahui kabar dan keadaan diriku, bahkan tahu sekarang aku kerja dimana.

Sungguh, maafkan aku teman, karena aku melupakan dirimu. Aku memang teman yang tidak tahu diri.

Tapi, terima kasih karena sudah menjadi temanku dan mengingat diriku yang bukan siapa-siapa ini.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.